Langsung ke konten utama

Kasihani Aku

Tujina adalah panggilan dari nenek tersebut. Memang ia semasa mudanya dan sedang duduk di bangku SMA sudah pandai menulis dan mengarang cerita dan tak kalah dari sastrawan-sastrawan tersohor diluar sana.

"Nek itu di rumah pak bayan ada pembagian sembako" ujar anak kecil yang sedang lewat ketika tujina sedang duduk ditepi teras rumahnya yang kecil dipinggir kali yang dikelilingi oleh pohon besar dan hamparan tanah pemakaman umum yang luas. "Heh yang bener le" saut tujina yang sedang duduk tersebut sambil memikirkan besok mau makan apa, beras tak punya, uangpun tinggal 500 perak. Zaman sekarang 500 perak dapat apa? Beda dengan 20 tahun yang lalu 500 perak sudah bisa beli telur dua biji. Jangankan telor, beli minyak aja sudah dapat satu liter. Keadaannya sangat berbanding terbalik dengan sekarang. Sebenarnya tujina memiliki anak yang merantau di perkotaan yang saat ini hidup serba berkecukupan disana. Rumahnya begitu megah dengan harta yang berlimpah ruah. Anaknya jarang sekali pulang menengok orang tuanya yang hidup di desa. Bahkan tau keadaannya pun acuh baginya. Dia bagaikan tak peduli apakah orang tuanya yang tinggal sebatang kara ditinggal mati bapaknya suami dari nenek tersebut baik-baik saja di desa. 

Balik lagi ke topik awal, dengan jalan yang begitu perlahan mendayu dan dengan sesekali berhenti untuk beristirahat tujina akhirnya datang ke pak bayan. "Assalamualaikum pak bayan" Sambil mengetok pintu yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran naga seperti istana. Rumahnya begitu megah dengan dikelilingi pohon yang begitu rindang. "Wah bagaikan keraton ini rumah, kapan aku bisa kaya begini" batin dari tujina yang berdiri dengan kain batik lusuh dan dengan seikat konde dikepalanya. "Heee kenapa kamu kesini" saut pak bayan yang membuat tujina kaget karena sedang melamun memikirkan nasibnya tersebut. "Eeee anu pak, katanya ada pembagian sembako ya" jawab tujina yang masih gemetar dengan hentakan dari pak bayan. "Oiyaa nihh" sambil ngasik bingkisan khusus untuk tujina yang memelas itu. "Laini apa pak" tanya nenek itu. Ternyata isinya hanya satu buah tek celup, satu sendok beras dan satu sendok gula. Apa boleh buat jika nasib sudah seperti ini. "Sungguh malang nasibku", batin dari nenek tua tersebut sambil menenteng bingkisan plastik ditangannya.

Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENIKMATI SEGERNYA SOTO DAN PENTOL KUAH KHAS WARUNG MAKAN BU FITRI DI CEMORO KANDANG TAWANGMANGU

  Diambil dari Miftah Asyrofi Muhtar  (Sabtu, 14 Januari 2023) Cemoro kandang merupakan wilayah dari kecamatan Tawangmangu bagian paling timur dari Kabupaten Karanganyar. Kawasan ini berada di ketinggian 1800 meter di atas permukaan laut. Udara dingin dari pegunungan sangat terasa di kawasan ini. Ditengah dinginnya udara di kawasan ini, rasanya lidah ini ingin menyantap masakan yang panas-panas untuk menghangatkan tubuh ini. Saat melintas di jalan yang naik dan berbelok-belok, dari sekian banyaknya warung di pinggir jalan saya tertarik berhenti ke salah satu warung soto yang sangat menarik desainnya, warung Bu Fitri namanya. Warung ini terletak di depan pas tulisan Titik 0 Cemoro Kandang dekat dengan perbatasan Kabupaten Magetan dan Kabupaten Karanganyar. Warung soto ini di desain dengan nuansa kekinian yang menarik para pemuda-pemudi atau wisatawan untuk berhenti di warung Bu Fitri ini. Warung ini sangat luas dan terdapat 3 lantai. Tempat duduknya lesehan kecuali untuk lantai...