Kiai singoprono tinggal
dan menjadi tokoh agama di suatu desa. Nama desa tersebut dikenal dengan nama Walen.
Kiai Singoprono adalah
putra dari kyai Ageng Wongsoprono II. kyai Ageng Wongsoprono II adalah Putra
Raden Djoko Dandun (Syaikh Bela Belu) Putra Raja Majapahit ( Brawijaya V). Kiai
singoprono terkenal sakti dan taat. Istrinya bernama Tasik Wulan. Sifat Kiai
Singoprono yang suka menolong, sangat berbudi luhur dan sakti telah tersebar ke
luar daerah. Penghasilannya diperoleh dari bercocok tanam. Selain itu, konon
katanya Kiai Singoprono juga tidak malu menjual dawet dan nasi di pinggir
jalan. Meskipun menjual untuk memperoleh penghasilan namun tidak jarang pula Kiai
Singoprono membagikannya untuk yang membutuhkan.
Tempat tinggal kiai
singprono yaitu di desa walen memang memiliki banyak sejarah yang kemudian menjadi
salah satu desa yang menjadi cikal bakal terbentuknya nama-nama desa atau
wilayah di Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Desa ini diyakini
telah ada sejak masa pemerintahan Kerajaan Demak. Asal usul nama Walen
berkaitan dengan sejarah terbentuknya desa ini. Dalam Bahasa Jawa, kata
Walen berarti wali atau pemuka agama.
Alkisah sejarah
terbentuknya Desa Walen juga berkaitan dengan asal usul Desa Simo. Raja
Demak, Sultan Trenggono, berniat pergi ke Pengging untuk meredam pemberontakan
Adipati Pengging, Ki Kebo Kenanga. Sebelum sampai di Pengging, Sultan Trenggono
ingin mencari petuah dari Kyai Singoperono. Sultan Trenggono kemudian
mengutus dua orang wali, yakni Sunan Kudus dan Sunan
Kalijaga, untuk menemaninya menemui Kiai Singoprono. Mereka menyamar
sebagai pengemis yang ingin mencari sedekah tapi sempat ditolak dan dihina oleh
istri Kiai Singoprono. Namun, Kiai Singoprono segera mengenali rajanya itu. Kiai
Singoprono lalu bersimpuh memberi hormat kepada Sultan Trenggono, Sunan Kudus,
dan Sunan Kalijaga.
Sultan Trenggono
lantas menceritakan maksud kedatangan mereka. Selain menyelidiki kebenaran
kabar tentang adanya orang sakti di Desa Walen, mereka juga ingin menanyakan
apakah kekuatan Ki Kebo Kenanga bisa ditaklukkan oleh pasukan
Kerajaan Demak. Kiai Singoprono bersemedi untuk mencari pertanda. Dia lalu
memberi petuah kepada Sultan Trenggono untuk menabuh canang wasiat atau gamelan
Kiai Bercak di Segaran Walen (sekarang bernama simo yang ditandai dengan adanya
tugu macan). Jika canang yang dipukul tidak berbunyi nyaring berarti serangan
Sultan Trenggono ke Pengging tidak akan berhasil. Tetapi apabila suara tersebut
berbunyi singo atau macan maka pertanda serangan Sultan Trenggono ke Pengging berhasil.
Setelah mendapatkan
petuah dari Kiai Singoprono, Sultan Trenggono kemudian kembali ke segaran Walen.
Sampailah Sultan Trenggono di Segaran dan memukul gamelan yang dimaksud oleh
kiai Singoprono. Setelah dipukul ternyata benar suara dari gamelan tersebut
mengaum seperti macan. Sultan Trenggono lalu melafalkan tafual atau sebuah
kalimat:
“Hai para
prajurit, karena suara canang Kiai Bercak hanya seperti gerak harimau (swarane
Kyai Bercak kaya panggerenging Simo), maka tempat di tepi segaran ini, kelak
apabila menjadi desa akan bernama Desa Simo”.
Setelah wafat, kiai Singoprono dimakamkan di Gunung Tugel. Dimana nama
Gunung Tugel diambil dan tidak terlepas dari kisah Kyai Singoprono itu sendiri.
Makam Kiai Singoprono sampai sekarang dijadikan sebagai tempat wisata ziarah
religi. Gunung Tugel terletak di daerah nglembu kecamatan Sambi kabupaten Boyolali.
Biasanya orang-orang yang mengunjungi makam
bertujuan untuk berziarah ataupun menikmati pemandangan alam
disekitarnya. Lokasi makam yang berada di gunung dan berhawa sejuk sehingga
pengunjung dapat berziarah sembari berlibur. Meskipun tidak sedikit pula
pengunjung yang bertujuan untuk melakukan pertapaan dan ngalap berkah.
Komentar
Posting Komentar